Daftar Ibcbet BNI Online

Berkenalan dengan duta besar FIFA

August 29th, 2015

2-george-weah-fifa-ambassador
Abedi pele, mantan pemain internasoinal dan kapten Ghana, dianggap sebagai pemain terhebat dalam sejarah Ghana dan di antara sepak bola Afrika. Sebagai pencetus sepak bola Afrika di klub Eropa, Pele pernah bermain untuk tim-tim di Italia, Swiss, Jerman, dan Perancis. Dia juga bermain 67 kali untuk negaranya di era 80’an dan 90’an. Berhasil menerima gelar Pemain Terbaik Afrika tahun 1991, 1992 dan 1993, namanya juga dimasukkan ke dalam salah satu dari 125 Greatest Living Footballers di bulan Maret 2004. Meski dia tidak pernah bermain di Piala Dunia, dia mendominasi sepak bola Afrika selama hampir satu dekade. Saat ini, Pele memiliki sebuah klub yang khusus mengembangkan bakat muda dan terlibat dalam pekerjaan amal dan salah satu Duta Besar sepak bola FIFA.
Jomo Sono kehilangan bintang sepak bolanya yang tak lain ayahnya dalam sebuah kecelakaan mobil di usia 8 tahun. Ibunya meninggalkannya dan Sono diurus oleh kakek neneknya. Di usia 10 tahun, dia menjual apel dan kacang dalam pertandingan bola. Dalam sebuah pertandingan bola, salah satu pemain absen dan Sono diminta mengenakan baju dan bermain! Itulah awal dari karir Sono. Dia langsung terkenal karena kemampuan menggiring bola yang luar biasa dan umpan akurat. Seorang fans memberi julukan Jomo, atau tombak membara, karena dia melihat adanya sifat kepemimpinan yang sama dengan Presiden Kenya, Jomo Kenyatta.
Pemain asal Liberia George Weah bermain untuk klub-klub Perancis, Italia dan Inggris selama 14 tahun. Tahun 1995 dia menjadi pemain terbaik FIFA, pemain terbaik Eropa, dan pemain terbaik Afrika. Dianggap sebagai pemain sepak bola Afrika terbaik yang pernah ada, Weah saat ini ambil bagian dalam penanganan kemanusiaan dan politik di Liberia. Melalui sepak bola dia berbagi kebahagiaan dan mempromosikan pentingnya pendidikan di antara anak-anak. Sebagai Presiden Junior Profesional, Weah menemukan banyak sekali bakat yang saat ini telah memebela tim nasional Liberia.
Itulah 3 dari sekian banyaknya duta besar inspirasional FIFA.

2 pemain bola yang gagal mencapai karir terbaik

August 25th, 2015

2-gianluigi-lentini

Denilson, Brasil

Ketika sebuah klub benar-benar menguras seluruh saldo tabungan di bank untuk membeli pemain ini, maka anda mengharapkan imbalan yang setimpal. Meski jumlah yang luar biasa dibayarkan, transfer 80 juta pons Cristiano Ronaldo ke Real Madrid bisa dianggap sesuai dengan jumlah yang dibayarkan, sementara itu saya yakin ada sejumlah fans Newcastle yang menyesalkan biaya 15 juta pons yang dibayarkan kepada Alan Shearer di tahun 1995. Zidane, Ronaldo, Maradona dan Cruyff adalah mereka yang memecahkan rekor lainnya. Dan ketika semua pemain itu berhasil membayar harga mahal mereka, Denilson jelas masuk ke dalam salah satu daftar pemain termahal yang gagal bersinar.

Setelah tampil memukau di tingkat klub, Denilson menikmati karir nasional yang sukses, memenangkan Copa America dan juga Piala Konfederasi di tahun 1997, sebelum memainkan setiap pertandingan di Piala Dunia 1998 yang berakhir sebagai runner up. Torehan luar biasa itu memaksa Real Betis secara mengejutkan memecahkan rekor transfer, mengambil alih peraih rekor sebelumnya (rekan kompatriotnya Ronaldo) dan menjadikan dia pemain pertama yang melewati angka 20 juta pons. Sayang sekali bagi fans betis, hal tersebut tidak sejalan dengan perkembangan karir Denilson selanjutnya. Setelah dua musim tanpa hasil yang membuat klub terdegradasi, Denilson, yang dipinjmakan ke tanah kelahirannya, menjadi bagian dari pemain biasa di sisa lima tahun berikutnya, tidak pernah bersinar sama sekali dan menjadikan dia pemain yang dilupakan.

Gianluigi Lentini, Italia

Transfer 13 juta pons membuatnya jadi pemain dengan rekor transfer pada masanya ketika dia pindah ke AC Milan. Meski bermain dengan baik dan meraih gelar Serie A dalam musim pertamanya dia tidak bisa benar-benar tumbuh sebagai pemain bintang, tidak seperti pemain lainnya, ada momen penting dalam hidupnya yang membuat dia tidak bisa melanjutkan karirnya.

Di usia 24 tahun, Lentini terlibat kecelakaan mobil yang bukan hanya membuatnya terancam kehilangan karirnya saja, tetapi juga hidupnya. 2 hari dalam koma membuatnya menderita patah tulang tengkorak dan juga kerusankan pada mata, meski dia berhasil pulih, dia tidak pernah bisa normal kembali. Meski masih bisa bermain, karirnya justru meredup dan harga jualnya menurun ketika Milan hanya menjualnya dengan harga 2 juta pons.

Trio Belanda AC Milan: Rijkaard, Gullit, van Basten

August 20th, 2015

2-ac-milan-dutch-trio

AC Milan melewati periode yang luar biasa dalam sejarah klub lewat kehadiran dari trio Belanda ini. Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten memainkan peran besar dalam kesuksesan klub di akhir 80’an dan pertengahan 90’an. Gelar-gelar nasional dan internasional berhasil dibawa ke Milan dan hingga hari ini fans Milan dan mantan pemain masih mengungkapkan rasa syukurnya.

Gullit dan Van Basten bergabung dengan klub di tahun 1987, Rijkaard satu tahun kemudian. Awalnya, Gullit yang memiliki pengaruh paling besar. Kapten Belanda karismatik Ruud Gullit, di musim pertamanya di Milan, berhasil membantu klub memenangkan Scudetto untuk pertama kalinya dalam 9 tahun. Untuk membeli Gullit, AC Milan membayar rekor jumlah transfer saat itu kepada PSV Eindhoven. Tetapi akhirnya mereka bisa mendapatkan ganjarannya dengan cepat.

Marco van Basten bermain untuk Ajax di Amsterdam sebelum pindah ke AC Milan. Di Belanda, dia menjadi pencetak gol di liga selama empat musim dari 1983 hingga 1987, mencetak 117 gol dalam 112 pertandingan. Di tahun 1987, dia juga mencetak satu-satunya gol dalam final Piala UEFA. Itulah trofi Eropa terakhir yang dilewatkan Ajax. Jadi itu sebuah hadiah perpisahan yang luar biasa bagi klub, ketika petualangan baru menunggu di Italia.

Sama seperti Van Basten, Frank Rijkaard juga memulai karir profesionalnya di atas lapangan untuk Ajax. Dia tinggal di bagian yang sama di Amsterdam seperti Ruud Gullit selama masa remaja mereka. Setelah menjadi pemain terbaik Eropa bersama Belanda di tahun 1988, dia melengkapi Trio Belanda AC Milan. Pada akhirnya, setiap pemain ini memainkan peran signifikan dalam karir mereka satu sama lain.

AC Milan nyaris sulit dikalahkan dan memainkan gaya sepak bola revolusioner, menunjukkan skill yang tidak pernah dilihat sebelumnya di Serie A. inilah bagian dari rencana utama pemilik klub. Di tahun 1986 seorang pengusaha Silvio Berlusconi membeli klub dan menyelematkan mereka dari kebangkrutan. Berlusconi menunjuk manajer pertama Arrigo Sacchi untuk memimpin tim. Dia diikuti oleh Fabio Capello, mantan pelatih Italia dan Inggris. Rossoneri kemudian membeli trio Belanda ini, di mana mereka ketika itu sudah memiliki pemain seperti Franco Baresi, Paolo Maldini dan Carlo Ancelotti. Inilah awal dari sebuah era yang bisa dibilang paling sukses dalam sejarah AC Milan.

Biografi singkat Carlos Tevez

August 12th, 2015

12-carlos-tevez

Tevez adalah seorang pemain sepak bola professional asal Argentina yang saat ini bermain untuk Juventus. Namalengkapnya adalah Carlos Aberto Tevez. Dia lahir di Ciudadela, Buenos Aires, Argentina tanggal 5 Februari 1984. Dia dibesarkan di kawasan Ejercito de Los Andes, lebih dikenal dengan nama “Fuerte Apache”. Sehingga, dia sering kali dijuluki “El Apache”. Di atas lapangan, dia selalu bermain sebagai seorang penyerang. Tevez juga telah mencatatkan lebih dari 50 penampilan untuk tim nasional Argentina, mencetak 14 gol sejauh ini.

Tevez dianggap sebagai salah satu prospek berbakat yang muncul dari Argentina. Carlos Tevez merupakan seorang pemain bola Argentina yang berskill tinggi yang punya kemampuan bermain bola sangat tinggi. Dia juga pemain yang sangat bersemangat meski berpostur kecil. Keberanian dan kekuatan adalah ciri dari permainannya. Selain rekan setimnya Lionel Messi, dia juga dijuluki sebagai “Diego Maradona Baru”. Maradona sendiri menjulukinya sebagai seorang “nabi Argentina di abad 21.”

Di tingat klub, Tevez sempat bermain untuk Boca Junior, 2001-2004, Corinthians, 2004 -2006, West Ham United, 2006-2007, Manchester United, 2007-2009, dan Manchester City, 2009-2012, Juventus, 2012-sekarang. Tahun 2008, setlah membantu Manchester Untied memenangkan Liga Champions, Tevez melakukan kepindahan yang kontroversial ke Manchester City.

Carlos Tevez telah mengoleksi banyak penghargaan untuk karirnya sebagai pemain bola professional. Di tingkat klub, bersama Boca Jniors dia memenangkan Primer Division (Apertura 2003), Copa Libertadores, 2003, Copa Sudamericana, 2004, dan Piala Interkontinental, 2003. Bersama Corinthians dia memenangkan Campeonato Brasileiro Serie A, 2005. Dan bersama Manchester United dia memenangkan Liga Primer, 2007-08, 2008-09, FA Community Shield, 2008, UEFA Liga Champions, 2007-08, Piala Dunia antar klub 2008, dan Football League Cup 2008-09.

Di tingkat internasional, dia meraih medali emas Olimpiade 2004 dan kejuaraan Copa America U20 tahun 2003. Sebagai pemain, beberapa penghargaannya meliputi pemain terbaik Copa Libertadores 2003, Silver Olimpia, Golden Olimpia, Sepatu Emas Olimpiade 2004, Campeonato Brasileiro 2005, Placar Bola de Oura 2005, Pemain terbaik Amerika selatan 2003, 20024 dan masih banyak lagi.

Sejarah singkat Old Trafford Stadium

August 9th, 2015

12-old-trafford-stadium

Old Trafford Stadium sudah jadi markas Manchester United sejak 1910, dengan jeda delapan tahun dari 1941 hingga 1949, setelah kerusakan yang dialami karena Perang Dunia Kedua. Selama kurun waktu itu, United harus berbagi stadion mereka dengan rival sekota, Manchester City.

Old Trafford merupakan tempat dengan kapasitas 75 ribu fans dan merupakan stadion kedua terbesar di Inggris, setelah Wembley di London. Ini juga jadi stadion terbesar ke sebelas di Eropa. Akan tetapi, bangunan ini dimulai dengan kapasitas 80 ribu penotnon dan dalam beberapa perkembangan selama 30 tahun bangunan ini kembali ke angka yang awal. Tempat duduk tambahan dibangun di tribun Utara, Barat dan Timur dan saat ini tribun tambahan juga nampak akan dibangun di arah Selatan yang akan meningkatkan kapasitas jadi 90 ribu penonton.

Old Trafford didanai oleh juragan kaya, John Henry Davies yang juga tengah mengelola klub dan menyelamatkannya dari kebangrkutan. Tahun 1909 Davies memutuskan Bank Street stadium ini, dengan tanah yang buruk, bau karena dekat pabrik dan lumpur yang membuatnya sulit dimainkan, bukanlah tempat yang cocok bagi sebuah tim yang baru memenangkan FA Cup dan dia mendonasikan uangnya untuk membangun stadion khusus bagi mereka.

Setelah mencari tempat yang baik, dia berhasil menemukan lokasi yang kita kenal saat ini. Stadion ini awalnya diproyeksikan akan memiliki kapasitas 100 ribu penonton. Akan tetapi, karena kekurangan dana, kapasitas itu dikurangi jadi hanya 80 ribu.

Old Trafford tetap menjadi stadion non-seater (tempat duduk beraris) hingga tahun 1990 ketika pemerintah mengharuskan stadion Divisi Utama dan Kedua harus memiliki seater, tempat duduk masing-masing per penonton. Proses renovasi saat itu telah mengurangi kapasitas stadion hanya menjadi 44 ribu penonton saja. Akan tetapi, popularitas dari klub ini berhasil meluluhkan investor dan pengerjaan stadion terus berlanjut dan kapasitas ini bisa kembali ke angka awal di 75 ribu penonton.

Bagi banyak fans Manchester United, Old Trafford merupakan simbol dari tim mereka. Ini merupakan tempat ziarah bagi mereka dan jika stadion terus berkembang, tempat ini juga punya potensi jadi simbol sepak bola di Inggris.